Lecturer = god in its own way?
“Untuk maju diperlukan suasana yang tidak nyaman.”
Membangun, membina, menumbuhkembangkan kegiatan kemahasiswaan dalam kerangka Himpunan Mahasiswa memang bukan hal yang mudah. Tapi tidaklah juga kita berpikir itu suatu hal yang sulit sebenarnya. Jurusan dan para dosen di dalamnya menuntut mahasiswa berkegiatan dan menghasilkan suatu hal yang positif sekaligus membanggakan dari kegiatan-kegiatan tersebut. Tentunya, jika ada mahasiswa yang berprestasi dan mengharumkan nama lembaga, terutama di ajang-ajang di luar kampus (jurusan, fakultas, atau universitas) kita sebagai dosen akanlah berbangga dan memberikan apresiasi pada mahasiswa tersebut. Namun hal yang patut kita pertanyakan dalam kerangka mencapai produk mahasiswa yang berprestasi tersebut adalah apakah kita sudah cukup mempunyai desain/kerangka/sistem pembinaan kemahasiswaan yang terpadu, sehingga produk mahasiswa yang berprestasi tersebut merupakan salah satu outcome utama yang ingin dicapai dari visi/misi lembaga? Jawabannya bisa jadi ‘tidak’.
Lembaga, dalam hal ini jurusan dan juga para dosendi dalamnya menghendaki agar kegiatan kemahasiswaan/himpunan mahasiswa (1) tidak dilaksanakan pada jam kuliah (2) selalu berkoordinasi dan meminta persetujuan dengan pihak jurusan sebagai pembina dan mengundang dosen-dosen. Untuk poin yang pertama, hal itu berarti mahasiswa hanya bisa menyelenggarakan kegiatan selepas jam 4 sore, karena jam mata kuliah terakhir berakhir sekitar pukul 15.30. Hal ini menimbulkan beberapa konsekuensi yang cukup dilematis. Betul bahwa kegiatan tersebut tidak akan mengganggu kegiatan perkuliahan, tapi tentunya mahasiswa cukup dirugikan dengan terpangkasnya waktu berkegiatan mereka karena hari sudah beranjak senja menjelang malam. Dan jika kegiatan dilangsungkan sampai malam hari, ini menimbulkan masalah yang lain, keberatan dari orang tua mahasiswa, kritik dari dosen dan lembaga, dan lain-lain.
Ide untuk meminta jam kuliah agar dapat digunakan untuk kegiatan kemahasiswaan jelas ditolak oleh para dosen. Alasan: kuliah adalah tugas utama mahasiswa, banyak materi yang harus disampaikan, tidak ada hubungannya kegiatan mahasiswa dengan materi yang dikuliahkan pada saat itu, etc.
Sekarang bolehlah kita lihat isu ini dari sisi yang lain. Pihak dosen sangat memegang dengan teguh dan penuh keyakinan saat menyatakan argumen bahwa kuliah merupakan tugas utama mahasiswa. Tampaknya argumen ini tidak bisa diganggu-gugat dan merupakan hal yang mutlak. Ini semacam kalimat sakti yang sulit dicari bantahannya. Ibaratnya, jika mahasiswa bernegosiasi dengan dosen dan dikeluarkan jurus sakti ini, mahasiswa tidak bisa berkutik dan harus mengadaptasikan kegiatannya berdasarkan argumen ini. Ini semacam jawaban “kembali pada manusianya itu sendiri”, jawaban untuk segala pertanyaan yang menyelesaikan/memaklumkan segala persoalan.
Nah, jika memang kuliah menjadi tanggung jawab utama mahasiswa, bukankah hal itu juga sekaligus menjadi tanggung jawab dosen? Karena mana mungkin mahasiswa kuliah tanpa dosen? Mereka membayar setiap semester untuk mendapatkan pengajaran dari para dosen yang sakti ini. Ingat, salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi itu adalah aspek pengajaran, dan itu yang pertama (selain penelitian dan pengabdian kepada masyarakat). Namun, tidak jarang dosen-dosen di perguruan tinggi (negeri) kita yang tercinta ini yang tidak masuk kelas (atau asistennya yang lebih sering masuk). Alasannya cukup beragam: penelitian, bentrok kelas, menyidang/menguji mahasiswa, tugas ke luar kota, dan yang paling sering: rapat. Perlu diketahui, bahwa ketidakhadiran para dosen di kelas ini seringkali tidak bisa dikompromikan dengan mahasiswa yang terlanjur datang ke kelas, karena seringkali pemberitahuan tentang pembatalan kelas pun mendadak. Dan perlu diketahui juga, ajaibnya, paraf kehadiran dosen tetap full (artinya mereka tetap mendapat honor mengajar). Yah, ini ajaib juga ya? Lalu bagaimana solusi yang ditawarkan dosen untuk mengatasi kekurangan jumlah perkuliahan? Ini juga merupakan solusi yang bisa dibilag klasik: mengganti di hari lain atau menggandakan jumlah pertemuan pada satu kali perkuliahan (memadatkan materi). Sounds familiar? Ya mungkin kita (atau anda?) salah satu di antara yang melakukannya
Sekarang mahasiswa ingin bertanya: “Pak, Bu, bisakah satu kali pertemuan diisi dengan kegiatan kemahasiswaan, dan Bapak/Ibu masih bisa mendapatkan haknya mengisi paraf kehadiran?” Kalau dosen bisa mengganti hari perkuliahan untuk mata kuliah bersangkutan, mengapa mahasiswa tidak? Kalau alasannya tidak ada lagi waktu untuk mengganti hari perkuliahan, atau materi yang harus disampaikan cukup banyak, mahasiswa ingin bertanya lagi: “Pak, Bu, Bapak/Ibu dulu waktu jamnya kuliah kemana aja? Banyak rapat/proyek ya Pak, Bu? Kok engga bisa ‘setelah jam kuliah’ rapat/ngerjain proyeknya? Kan ‘kuliah yang utama’, bukan? Kalau kami bisa, kenapa Bapak/Ibu yang terhormat tidak bisa?”
Ada lagi kasus yang cukup unik yang ingin saya bagi di sini. Tidak jarang dosen menyelenggarakan seminar atau mengundang pembicara dari luar untuk menyampaikan kuliah umum. Nah, kekhawatiran utama dari diselenggarakannya acara-acara semacam ini adalah tidak ada/kurangnya peserta/audience, yang akan berdampak dari ‘malu’-nya pihak penyelenggara. Untuk meminimalisir dampak yang mungkin timbul dari hal semacam ini, biasanya atau lebih tepatnya seringkali, pihak penyelenggara (umumnya dosen) meminta kepada para dosen lain (yang kebetulan pada hari dan jam dilaksanannya acara seminar/kuliah umum tersebut sedang bertugas mengajar/ada kelas) untuk ‘mengerahkan’ mahasiswanya ke acara seminar/kuliah umum tersebut. Lalu apa kuasa mahasiswa untuk menolak himbauan (baca: perintah) dosen yang bersangkutan? Practically, tidak ada. Mengapa demikian? Karena biasanya dosen ‘menyandera’ mahasiswa dengan jurus ‘absen/paraf kehadiran mata kuliah yang bersangkutan ada di ruang seminar/kuliah umum (dan diedarkan menjelang acara tersebut berakhir).’ Yang menjadikan hal ini cukup aneh, tidak jarang tema seminar/kuliah umum tersebut tidak ada/minim relevansinya dengan mata kuliah yang seharusnya diajarkan pada jam tersebut. Misalnya, untuk apa mahasiswa menghadiri seminar “Pengelolaan Universitas/Perguruan Tinggi”? Walaupun dengan stimulus pembicaranya dari luar negeri? Ini acara mahasiswa atau acara dosen? Saya tanya pada mahasiswa yang hadir pada saat itu, “kalian ngapain di sini?” Mereka jawab dengan keherenan, “engga tau pak, kita disuruh kesini sama dosennya. Kita juga bingung.” Dan yang cukup (tidak) mengejutkan (lagi), tentu saja paraf kehadiran dosen full. LOL.
Untuk persoalan ini dan kaitannya dengan urusan kegiatan kemahasiswaan, alasan bahwa kegiatan kemahasiswaan tidak ada relevansinya dengan mata kuliah sehingga tidak dapat menggantikan perkuliahan, sepertinya sulit diterima. Kalau dosen bisa, kenapa mahasiswa tidak bisa?
Selanjutnya, hal yang cukup mengganggu saya dari relasi jurusan (dosen)-mahasiswa tentang kegiatan kemahasiswaan dan kuliah adalah poin kedua yang sempat disinggung di atas. Dilihat dari sudut pandang dosen, tidak jarang kegiatan yang diselenggarakan oleh elemen dosen (universitas/fakultas/jurusan) membutuhkan dan seakan mewajibkan partisipasi mahasiswa di dalamnya, entah sebagai panitia atau sebagai peserta. Dan biasanya, akan cukup menimbulkan iritasi bagi dosen jika acara-acara yang diselenggarakannya (dies natalis, seminar, konferensi, festival, etc.) tidak ada/sedikit partisipasi mahasiswa di dalamnya. Mahasiswa selalu saja menjadi pihak yang terakhir disalahkan atau menjadi kambing hitam jika mereka tidak hadir. Sekarang mari kita lihat dari sudut pandang mahasiswa. Apakah kegiatan-kegiatan tersebut terselenggara atas koordinasi dengan pihak mahasiswa? Apakah ada benefit/advantage untuk mahasiswa dari partisipasinya dalam kegiatan-kegiatan tersebut? Apakah kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kepentingan dosen (universitas/fakultas/jurusan) atau kepentingan mahasiswa? Lalu kalau mahasiswa tidak merasakan passion atau pentingnya ikut serta pada kegiatan tersebut, apa pantas mahasiswa disalahkan, dimarahi, dijadikan kambing hitam? Sekarang, kalau mahasiswa menyelenggarakan kegiatannya sendiri, yang notabene harus diselenggarakan selepas jam kuliah, dan telah mengundang dosen yang terhormat untuk sekedar HADIR dan menyaksikan, tetapi para dosen ini tidak pernah datang juga (karena hari telah sore/larut malam), salahkan mahasiswa untuk marah dan merasa diabaikan? Jawabannya tentu tidak. Karena, sekali lagi, kalau dosen bisa, mengapa mahasiswa tidak bisa? (Oh iya, dosen kemungkinan besar datang kalau ada SK atau Surat Tugas dari pimpinan, karena pasti ada konsekuensi finansial
).
Sekarang kita bisa melihat paling tidak dari sudut pandang yang lain tentang kegiatan kemahasiswaan. Tidaklah fair untuk memberikan peraturan yang hanya berlaku untuk satu pihak (double standard). Tidaklah fair untuk tidak mengijinkan mahasiswa sementara dosen mengijinkan dirinya melakukan hal yang sama. Tidaklah fair untuk menyalahkan mahasiswa sementara dosen tidak pernah memberitahu bagaimana cara yang benar atau tidak menunjukkan dengan perilakunya cara yang benar yang sesuai dengan perkataannya. Then again, apakah kita mempunyai sistem pembinaan terpadu untuk kegiatan kemahasiswaan (by design)? Jangan jawab dengan jawaban: “tanya saja bagian kemahasiswaan.” Ini jelas mengambinghitamkan lagi dengan menyelamatkan diri sendiri dan menunjuk hidung orang lain.
Ah, dosen dan mahasiswa selalu mempunyai hubungan yang unik. Kita sudah menyerah dengan visi World Class University, karena untungnya kita sadar diri kita bukan (baca: belum menjadi) universitas kelas dunia. Sementara visi Research University-pun masih ragu-ragu kita canangkan (hampir saja kita balik kanan), karena untungnya kita masih bisa bercermin. Sekarang kita bergelut dengan status Badan Layanan Umum (BLU). Kenapa bergelut? Ya karena rupanya kita masih melayani kepentingan kita sendiri, kepentingan dosen orang per orang, kepentingan perut kita sendiri, bukan kepentingan pada pelayanan mahasiswa yang menjadi stakeholder utama kita.
Muka anda merah dan telinga anda panas setelah membaca tulisan ini? Ya engga apa-apa. Biasa saja. Kritik itu biasa. Ini juga otokritik untuk saya/kita sendiri.
mau posting di livejournal susah bener. jadi aja di sini, padahal multiply saya udah lama ga diurus. kasian bener.
Gpp ko bek,ini msh dibaca
hei olva! haha masih ada pengunjungnya juga :ppabakar?